Showing posts with label Go Green. Show all posts
Showing posts with label Go Green. Show all posts

Tuesday, December 2, 2014

Efisiensi Energi: Kunci Energi Masa Depan


Energi merupakan salah satu elemen terpenting yang dibutuhkan oleh manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan energi global tentunya akan meningkat. Di Indonesia, kebutuhan energi saat ini sebagian besar masih bertumpu pada bahan bakar fosil. Di lain sisi, persedian bahan bakar tersebut akan habis tergerus oleh waktu. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil ini menjadi masalah besar dan perlu solusi mendesak untuk kemandirian energi di masa depan.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Tuntutan akan kebutuhan energi mendorong masyarakatnya untuk mencari energi alternatif yang dapat digunakan secara masal. Berbagai macam energi alternatif pun kini telah dikembangkan bersamaan dengan pembangunan beberapa pembangkit listrik sebagai rencana aksi mitigasi gas rumah kaca juga memenuhi pasokan kebutuhan energi lokal.
Pembangunan pembangkit listrik dan pengembangan energi alternatif secara berkelanjutan tidaklah cukup untuk dijadikan sebagai solusi untuk menuju kemandirian energi di Indonesia. Hal tersebut tidak akan berarti jika tidak di dukung dengan tindakan manusianya sendiri untuk menggunakan energi tersebut secara bijak dan bertanggung jawab.  Analoginya jika dibangun banyak pembangkit listrik dan pengembangan energi alternatif tetapi manusia sebagai subjek (pengguna energi) dengan loyal menggunakannya tanpa bijak dan bertanggung jawab itu semua tak ada nilainya. Oleh karena itu, butuh adanya sinergi antara tindakan manusia dengan sumber energi yang ada untuk menuju energi yang efisien.
Efisiensi energi merupakan hal yang dapat dilakukan oleh setiap individu sebagai tanggung jawabnya menggunakan energi. Efisiensi energi berarti metode yang memungkinkan untuk dapat menghasilkan penggunaan energi yang lebih efisien dan membantu penurunan permintaan energi global. Secara sederhana, contoh dari efisiensi energi adalah menggunakan lampu hemat energi.
Efisiensi energi memiliki banyak sekali keuntungan. Salah satu hal yang dapat kita rasakan secara langsung adalah dari segi finansial. Faktanya, dengan melakukan efisiensi energi akan berimbas langsung dengan berukurangnya tagihan listrik. Berikut ini merupakan data penghematan biaya listrik yang dikumpulkan oleh Energy Efficiency and Conservation Clearing House Indonesia (EECCHI). EECCHI merupakan sebuah unit di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang didanai oleh pemerintah Denmark:
  • Mengganti lima lampu di rumah dengan lampu hemat energi dan mematikan lima belas lampu saat tidak sedang digunakan memiliki potensi hemat Rp1.600.000/tahun.
  • Mengatur suhu kulkas 2o s/d 4 o C dan suhu freezer -17 o s/d -15 o C, serta sering mengganti karet pinggiran kulkas dan tidak terus-terusan buka-tutup kulkas saat tidak dibutuhkan memiliki potensi hemat Rp750.000/tahun.
  • Mengatur suhu AC di 24 o -25 o C, juga sering membersihkan filter dan menutup saluran AC yang bocor memiliki potensi hemat Rp2.500.000/tahun.
  • Bila ditambah dengan mencabut kabel barang elektronik dari colokan listrik saat sudah tidak digunakan lagi, kita bisa hemat Rp5.500.000/tahun atau lebih dari Rp450.000/bulan. Dengan kata lain, kita hemat Rp500.000/bulan.       

Manfaat lain dari efisiensi energi adalah meningkatkan keamanan energi dan kemandirian energi karena bisa mengurangi impor bahan bakar asing juga memperlambat laju penipisan cadangan sumber daya energi lokal. Selain itu, efisiensi energi juga merupakan salah satu prasyarat utama untuk perkembangan ekonomi dunia. Sederhananya, akan terjadi ledakan pertumbuhan ekonomi yang bersar tanpa didiringi dengan konsumsi energi yang besar pula.
Setiap orang dengan mudah dapat melakukan efisiensi energi secara mandiri. Tidak hanya dengan menggunakan lampu hemat energi tetapi juga dengan membeli peralatan modern yang hemat energi lainnya sebagai ganti barang yang lam. Hal ini tidak hanya meningkatkan efisiensi energi tetapi juga merupakan salah satu langkah awal untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang berdampak langsung dengan perubahan iklim.

Referensi:


Sunday, October 5, 2014

Jejak Karbon Ku

Bertempat di Hotel New Ayuda, saya bersama dengan 19 alumni YFCC (Youth For Climate Camp) lainnya berbagi pengalaman apa yang telah dilakukan pasca mengikuti YFCC. Sangat terkesima ketika mendengar pengalaman dan aksi yang telah dilakukan oleh teman-teman lainnya. Hal tersebut tentunya menjadi sebuah motivasi bagi saya sendiri untuk bisa lebih banyak aksi yang dilakukan untuk lingkungan. Selanjutnya, materi pertama di awali dengan topik Kalkulator Karbon yang dibawakan langsung oleh mba Deby Natalia.

Kalkulator Karbon
Semakin tingginya emisi gas rumah kaca menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri bagi kehidupan manusia dan lingkungan kedepannya. Hal ini tentunya diperlukan adanya sebuah alat/aplikasi untuk dapat mengetahui emisi gas yang telah dihasilkan oleh kegiatan manusia sehari-hari. Dengan mengetahui jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dapat memberikan pengetahuan baru kepada individu untuk merubah gaya hidup yang lebih berwawasan lingkungan. Semua gas emisi rumah kaca yang dihasilkan tersebut dikenal sebagai jejak karbon. Jejak karbon adalah jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh pribadi atau kelompok dalam melakukan kegiatan per periode. Diantara gas rumah kaca yang dimaksud adalah CO2, CH4, N2O, HFCs, PFCs, SF6.

Manfaat Perhitungan Jejak Karbon
Perhitungan jejak karbon memiliki beberapa keuntungan seperti dalam bidang lingkungan dan bisnis. Di bidang lingkungan, penghitungan jejak karbon berfungsi sebagai identifikasi potensi dan kontribusi bagi penurunan emisi CO2 juga sebagai tolak ukur (benchmark) bagi efisiensi. Di bidang bisnis, manfaat penghitungan jejak karbon juga sebagai alat penghematan energi dan biaya operasional, keuntungan marketing, juga mengantisipasi trend bagi sektor industri pariwisata dan industri lainnya. Sudah saatnya, kita mengetahui berapa besar emisi gas yang telah kita sumbangkan saat ini. Dari hal tersebut, DNPI membuat aplikasi online sebagai tool untuk menghitung emisi gas yang kita hasilkan sehari-hari. Cek di kalkolator.dnpi.go.id untuk mengetahui berapa jejak karbon yang anda hasilkan setiap harinya.
Rumus menghitung jejak karbon yaitu:
Jejak karbon= Faktor Emisi x Satuan Aktivitas
Faktor emisi: besaran emisi GRK yang dilepaskan ke atmosfer per satuan aktivitas tertentu. diantara faktor emisi tersebut adalah pembangkit listrik, dan pengoperasian kendaraan bermotor.
Jejak karbon memiliki beragam jenis. Diantara jenis-jenis jejak karbon yaitu jejak karbon organisasi, jejak karbon aktivitas,dan jejak karbon produk. Setelah mengetahui jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas kita masing-masing, kita dapat mengurangi jejak karbon tersebut dengan beberapa cara yaitu manajemen energi dan pengelolaan lingkungan, menggunakan makanan dan produk lokal, mengelola limbah, dan  menanam pohon.
Latihan Soal:
1.      Pemakaian listrik 400 kWh per bulan.
2.      Pemakaian kendaraan kendaraan pribadi ke kampus.
3.      Sampah 1000 liter/ tahun.
Jawab:
1.      Emisi yang dihasilkan pada Pemakaian listrik 400 kWh per bulan adalah 0.823 kgCO2/kWh x 400 kWh = 329,2 kgCO2.
2.      Disesuaikan dengan jarak tempuh ke kampus dalam km

3.      Emisi yang dihasilkan dari sampah adalah 0.075 kgCO2/liter x 1000 liter = 75 kgCO2

HASIL TOTAL EMISI PRIBADI 
Emisi Listrik
Dengan menggunakan aplikasi online DNPI, yakni kalkulator karbon saya menghitung berapakah total emisi yang saya hasilkan. Dari penghitungan tersebut di dapat bahwa emisi listrik total (keluarga) yang dihasilkan adalah:
145.82 kgCO2/ bulan dengan kata lain emisi listrik yang saya hasilkan adalah 145.82 kgCO2/ 6 orang = 24.03 kgCO2/ bulan. Maka emisi listrik pertahun yang dihasilkan adalah 24.03 x 12 = 288 kgCO2.
Emisi BBM
Setelah dihitung emisi BBM yang dihasilkan oleh keluarga saya adalah 7.70 kgCO2/bulan, maka untuk pertahun emisi BBM yang dihasilkan adalah 7.70 kgCO2 x 12 = 92.4 kgCO2/tahun
Emisi Sampah
Setelah dihitung emisi sampah yang dihasilkan yaitu 24 kgCO2/ bulan. Maka untuk pertahunnya yaitu 24 kgCO2 x 12 = 288 kgCO2
Emisi Transportasi
Setelah dihitung emisi transportasi yang saya hasilkan adalah 22.57 kgCO2/ bulan. Ini berarti emisi transportasi yang saya hasilkan selama setahun yaitu 22.57 kgCO2 x 12 = 270.84 kgCO2
Serapan Emisi
Tidak ada serapan emisi

TOTAL EMISI:
 228 kgCO2 +92.4 kgCO2 +288 kgCO2 +270.84 kgCO2 = 879.24 per tahun
879.24 / 12 = 73.27 kgCO2 per bulan

v  Dari penghitungan tersebut dapat dijadikan bahan refleksi kita bahwa setiap orang meninggalkan jejak karbon yang ikut andil mempercepat perubahan iklim dan global warming. dapatkah kita bayangkan jika 1 orang menhasilkan 73.27 kgCO2 karbon perbulannya berapa banyak emisi gas yang dihasilkan oleh manusia di Indonesia? apalagi di dunia? Untuk itu, yuk kita ubah seni hidup kita kearah berwawasan lingkungan ....


Saturday, March 29, 2014

Secarik Memori SwitchCamp2014

Awalnya tak menyangka bisa terpilih menjadi salah-satu dari 100 pemuda seluruh Indonesia dalam acara SwitchCamp yang diadakan oleh 350Indonesia. Ya, saya memang tertarik untuk belajar mengenai lingkungan atau perubahan iklim walau background pendidikan yang saya miliki adalah Mathematics Education. Setelah dinyatakan lolos oleh panitia, saya sempat ragu untuk mengikuti acara ini atau tidak dikarenakan sampai sekarang proposal skripsi saya tak kunjung selesai *curhat sedikit haha...

Akhirnya setelah mendapatkan dukungan dari teman-teman kampus saya pun memilih ikut acara ini. Alasannya sederhana, saya mau belajar dari orang-orang yang kompeten dibidang lingkungan untuk menambah pengalaman saya tentunya. Selain itu, saya juga ingin mengenal, belajar, dan berbagi dengan peserta lain yang sangat menginspirasi saya. "Karena belajar tak hanya ada di dalam kelas."

Ya, akhirnya saya pun berangkat ke Jogja bersama Ipul (UNISMA, MC keren sekaligus yang pegang Muara Gembong nih) sama Nada (UNJ, cewe yang keren dengan aktivitas hijaunya di kampus). Ini mungkin ketiga kalinya ketemu sama si Ipul, setelah sebelumnya bertemu di event lain. Dan ini pertama kalinya kenal Nada, yang satu almamater dengan saya. Sungguh, mereka berdua sangat menginspirasi saya dengan aktivitas mereka yang peduli dengan lingkungan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 jam, akhirnya sampai juga di Jogja. Ternyata kami datang di kloter pertama. Di ruang tunggu Stasiun Tugu tepatnya kita berkenalan dengan peserta lain yang telah datang juga. Sampai akhirnya, tiba di tempat acara. Tempat yang begitu indah bagi saya. Sepertinya tak ada tempat seperti ini di Jakarta. Setelah registrasi, kami pun bergegas mencari kamar masing-masing. Karena bingung dengan lokasi kamar, akhirnya peserta cowok kloter pertama singgah terlebih dahulu di tempat makan.

Inilah yang ditunggu-tunggu ,,, Makaaaan (ada lele goreng, urab, sambel, semangka, Mantaff) Haha... Mulailah disini kita berbagi sedikit tentang kesibukan di kampus maupun di luar kampus. Setelah bertanya, akhirnya kita menemukan kamar masing-masing. Dan istirahat sambil menunggu peserta yang lain tiba...

Sampai akhirnya malam pun tiba dengan sendirinya. Ternyata di kamar Rajawali 1 sudah ada 6 orang peserta termasuk saya. Ada Nuzul, Gilang, Andri, Eli, dan Fahmi. Perbincangan malam pun tak jauh dari sharing-sharing kondisi kampus dan perkuliahan. Disini saya mendapatkan teman-teman baru yang sangat asik dari berbagai background pendidikan yang berbeda.

Singkatnya, selama beberapa hari mengikuti switchcamp saya mendapatkan keluarga baru yang memiliki satu tujuan yang sama untuk bumi yang lebih hijau. Disini saya belajar mengenai kondisi lingkungan di dunia saat ini serta kondisi lingkungan dari daerah masing-masing. Disini juga kita bekerjasama untuk membuat action plan sebagai salah satu solusi untuk permasalahan di sekitar lingkungan, seperti masalah pengalihan lahan hutan untuk lahan pemukiman di daerah Bandung. Semoga pasca acara ini kita semua dapat berkolaborasi bersama untuk membuat aksi-aksi kreatif selanjutnya... *Planning ke depan saya dan Nada rencananya ingin memanfaatkan kertas-kertas yang berserakan di kampus untuk di daur ulang dan dibuat menjadi buku #savepaper

Dan yang paling seru dari acara ini adalah adanya beberapa track yang difokuskan untuk masing-masing peserta. Dan saya pun memilih track 'Artivism'. Di track ini saya belajar banyak sekali dari mba Nova, mba Fitri, Mas Sigit dkk yang dengan sabar dan semangatnya berbagi dengan kami semua. Yang paling terlihat saya belajar seni cukil dan stensil yang dapat dimanfaatkan sebagai pembuatan media kampanye lingkungan.

Terima Kasih untuk semua panitia yang telah membuat acara ini keren. Terim kasih untuk teman-teman, mentor masing-masing track, pengisi materi dan panitia (lagi) yang memberikan banyak inspirasi bagi saya. Mohon maaf juga bila ada kesalahan yang saya perbuat baik yang disengaja maupun tidak. Mungkin tulisan ini tidak bisa menggambarkan semua memori yang ada diingatan ini .. *asiiiiik :D

*cukil

Upload foto menyusul ......

Tuesday, March 11, 2014

Masalah Sampah Tak Menyadarkan Penghuni Jakarta Juga

Jakarta Ku Sayang, Jakarta Ku Malang …

Jakarta sebuah kata yang memiliki sihir bagi sebagian orang. Jakarta merupakan sebuah kota besar sekaligus menjadi Ibu Kota dari bangsa ini. Dengan memiliki daya tarik yang tinggi, Jakarta mampu menjadi pusat pemerintahan bahkan sumber ‘perekonomian’ sehingga banyak mendatangkan masyarakat dari luar Jakarta untuk mengadu nasib di Jakarta. Berbagai permasalahan pun muncul di kota ini. Mulai dari sektor pendidikan, kesejahteraan, perekonomian dan juga permasalahan lingkungan. Berbicara mengenai permasalahan lingkungan di Jakarta sudah teramat kompleks. Kepadatan penduduk di Jakarta berbanding lurus dengan tingkat konsumsi yang berimas langsung dengan meningkatnya volume sampah yang dihasilkan dari tingkat konsumsi tersebut.
Tak dapat dipungkiri, ketika kita menelusuri jalanan di Jakarta dengan mudahnya kita akan menemukan sampah yang tergeletak manis begitu saja. Jakartaku kini tak seindah dulu. Menurut Kepala Suku Dinas Kebersihan DKI,Eko Bharuna tiap harinya Jakarta menyumbang 6.500 ton sampah dan naik 5 persen setiap tahunnya. Sampah tersebut dihasilkan oleh penduduk Jakarta yang mencapai 10 juta orang. Angka 10 juta tersebut tidak termasuk 2,5 juta warga yang biasa kerja di Jakarta pada siang hari.
Produksi sampah sekarang ini sebanding dengan 28.000 m3. Bila volume ini dibayangkan dengan perbandingan luas lapangan bola (105 m x 70 m) dengan tinggi 1 m, maka perhari luas sampah di DKI Jakarta hampir 4 kali lapangan bola tersebut untuk perhari atau bisa disamakan dengan setengah volume candi Borobudur yang volumenya mencapaai 50.000 m3 per hari. Dapatkah kita bayangkan, seperti apa volume sampah per minggu, perbulan, dan pertahun?
Meningkatnya volume sampah di Jakarta menjadikan Jakarta kotor dan menimbulkan pencemaran. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan menjadi point utama dalam permasalahan sampah di Jakarta. Banyak orang yang tidak merasa malu jika membuang sampah sembarangan. Bahkan dengan rasa tak bersalah, banyak orang yang membuang tissu, botol air mineral, bungkus permen di berbagai tempat umum seperti halte dan lain sebagainya. Parahnya, masalah sampah seolah bukan menjadi tanggung jawab manusia. Manusia dengan senangnya memikirkan kepuasan diri sendiri tanpa memikirkan keberlanjutan alam ini. Sebagai contoh, pada acara Jakarta Night Festival tahun 2012. Acara tersebut menghasilkan 600 ton sampah atau sekitar 10 persen dari sampah yang dihasilkan seluruh wilayah DKI Jakarta dalam sehari. Jumlah tersebut terbilang fantastis karena sekitar satu juta warga yang datang dari Jakarta dan sekitarnya hanya memenuhi kawasan Senayan – Medan Merdeka Barat dan hanya berlangsung dalam waktu 5 jam saja, yakni pukul 21.00 - 02.00 wib. Oleh karena itu, sangat penting jika pendidikan di Indonesia juga menerapkan pendidikan lingkungan hidup agar masyarakatnya juga mengerti akan pentingnya menjaga lingkungan.
Selain itu, penyebab lain dari penumpukan sampah di Jakarta adalah kurangnya fasilitas tong sampah, truk sampah, tukang angkut sampah dan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dapat kita lihat, diberbagai daerah sebagai contoh di Jakarta Barat sangat terlihat kurang sekali fasilitas tong sampah untuk menampung sampah rumah tangga. Akibatnya, tak sedikit masyarakat yang dengan mudahnya membuang sampah ke kali yang berada di dekat tempat tinggal mereka. Saat ini Dinas Kebersihan DKI memiliki:
1.      797 unit truk sampah, di mana 46% rusak atau tidak layak jalan serta hanya mampu mengirim sampah satu rit per hari.
2.      Pegawai DKI yang mengurus lingkungan hanya 80 ribu.
3.      Satu-satunya TPA di DKI Jakarta hanya Bantar Gebang yang beroprasi sejak tahun 1989 dengan luas 108 hektar dan didesain untuk menampung 19 juta m3 dan sekarang sudah terisi 9 juta m3.
4.      Lokasi penampungan sampah sementara sekarang ditentukan oleh masyarakat dan difasilitasi lurah camat setempat.

Melihat kondisi diatas, kecamatan dan kelurahan memegang peranan penting dalam permasalahan sampah. Tukang angkut sampah belum menjadi bagian dari pengelolaan pemerintah kota tetapi masih menjadi tanggung jawab masyarakat demikian juga dengan tempat pembuangan sampah sementara yabng ditentukan oleh kelurahan.

Berdasarkan pengalaman hidup di Jakarta, penarikan retribusi sampah ke masyarakat sekitar tidaklah mudah. Banyak masyarakat yang masih enggan dan sulit untuk membayar retribusi tersebut. Kondisi ini justru terbalik dengan Jerman. Di Jerman, tukang angkut sampah menjadi bagian dari pengelolaan sampah pemerintah kota sehingga masyarakat pun akan patuh dan terikat dengan peraturan yang berlaku.
Penyebab lainnya adalah kurang tegasnya pemerintah dalam menjalankan peraturan yang telah ditetapkan. Terutama mengenai peraturan kebersihan di DKI Jakarta. Sebagai contoh, Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang pengolaan sampah yang telah di sahkan pada Mei 2013 laulu di DPRD DKI memuat sanksi pada pelanggar dari masyarakat dan perusahaan. Guberbur DKI juga mendenda warganya yang membuang sampah sembarangan maksimal Rp. 500 ribu.
Pada pasal 126 di Perda itu juga membahan mengenai larangan membuang sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pada jam 06.00-21.00 wib. Masyarakat juga dilarang keras membuang sampah di lokasi tertentu seperti sungai/kali, kanal, waduk, situ dan saluran air limbah, jalan, taman serta tempat umum.
Lain hal pada Pasal 127. Pasal ini membahas tentang sanksi soal masyarakat yang sengaja tidak melakukan pemilihan sampah. Sanksinya adalah sanksi administratif dari RW setempat. Bagi pihak pengelola kawasan pemukiman, komersil, industri dan kawasan khusus akan dikenakan sanksi Rp 10-15 juta jika tidak menyediakan fasilitas pengelolaan sampah. Pengelola fasilitas sosial dan fasilitas umum akan diganjar dengan denda Rp 1-5 juta. Bagi pelanggar yang sengaja membuang sampah ke sungai, waduk, situ, saluran air limbah, di jalan, taman atau tempat umum lainnya, maka akan dikenakan denda Rp 500 ribu. Sedangkan pengelola pusat belanja akan dikenakan denda Rp 5-25 juta jika tidak menggunakan kantong plastik ramah lingkungan.
Peraturan telah dibuat. Kini saatnya untuk pemerintah tegas dalam menjalankan peraturan tersebut. Jangan sampai peraturan dibuat hanya sebagai pajangan tertulis. Andai saja peraturan ini diterapkan, permasalahan sampah akan sedikit berkurang karena sistem yang berlaku dan memaksa manusia untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Permasalahan sampah di DKI Jakarta merupakan sebuah permasalahan yang bercabang. Artinya permasalahan sampah ini dapat menimbulkan berbagai macam permasalahan lainnya. Salah satunya adalah banjir. Sepertinya musim banjir tak lagi berlaku di Jakarta. Banjir dapat datang dengan sesuka hati jika curah hujan yang sangat tinggi di ibu kota. Walaupun permasalahan sampah bukanlah penyebab utama dari banjir, selain tata kota yang tidak mendukung, letak geografis Jakarta yang tidak menguntungkan serta curah hujan yang begitu tinggi, sampah menjadi faktor yang dapat memperparah banjir di Jakarta. Sampah dapat  menutup saluran air, kali/sungai dan pintu air yang mengakibatkan air meluap.

Sebagai contoh di lingkungan kampus tercinta saya mengenyam pendidikan. Kampus A Universitas Negeri Jakarta. Beberapa tahun belakangan ini, kampus ini juga terkena imbas banjir. Padahal saat awal saya masuk kuliah, tidak pernah kebanjiran. Hal ini disebabkan kurangnya lubang saluran air, kondisi got yang kecil, juga dataran kampus yang rendah. Ini tentunya menjadi tanggung jawab semua warga kampus, salah satunya adalah menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Jika dilihat, masih banyak warga kampus yang masih kurang peduli dengan lingkungan.
Sungguh sangat menjadi sebuah ironi bahwa musibah, kerusakan nyatanya tak dapat menyadarkan penghuni Jakarta. Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Haruskah kita menunggu Jakarta tenggelam dengan banjir? Haruskan kita menunggu Jakarta tenggelam dengan lautan sampah? Jawabannya adalah Jakarta butuh kita semua, dan kita semua butuh Jakarta ... Sadarkah kita?

Referensi:

Produk Sampah

Salam Lestari :D
Siapa bilang sampah tak berguna?
Mungkin bagi sebagian orang sampah adalah barang tak berguna dan menjijikan. Eittts tunggu dulu. dengan bermodalkan kreativitas kita dapat mengubah sampah disekitar kita menjadi produk kreatif dan memiliki nilai jual. Cobalah lihat sekeliling Anda, mungkin anda menemukan inspirasi untuk membuat sesuatu. Kali ini saya akan berbagi mengenai beberapa produk yang telah saya eksplorasi bebahan dasar barang bekas dan sampah. Check this out!!!

Karya pertama, membuat tempat pensil dari botol plastik bekas dan kain perca. Ide ini muncul dari sekitar lingkungan kampus. Saya melihat banyak sekali botol plastik air mineral yang tergeletak begitu saja tanpa dimanfaatkan. Saat itu juga saya browsing, dan mendapatkan sebuah ide untuk membuat tempat pensil dari botol plastik air mineral ini. Dan inilah hasilnya ...

Karya selanjutnya adalah dengan memanfaatkan limbah kulit petai cina untuk membuat hiasan pada frame dan note. Dan inilah hasilnya :


Lumayan untuk mengisi waktu luang sekaligus ikut mendukung gerakan daur ulang sampah. Tunggu karya-karya selanjutnya :)

Wednesday, January 1, 2014

Green Resolution in 2014

1 Januari 2014 ...

Assalamu'alaykum 2014
Huuuuuuuaaaaaaaa...
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan hingga saat ini. Segala nikmat telah Engkau berikan dengan cuma-cuma hingga hambaMu ini masih bisa bernafas serta melihat keindahan ciptaanMu.

Akhirnya tiba juga di 2014. Tentunya tahun ini harus lebih baik, penuh pencapaian, lebih istimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak banget target dan impian yang udah gue 'ketik' untuk gue tempel di kamar nantinya. Berbicara mengenai resolusi, tahun 2014 gue pengen punya bisnis tapi dibidang lingkungan, atau biasa disebut '"GreenPreneur". Alasannya sangat sederhana, karena gue memang tertarik di dunia wirausaha dan lingkungan. Oleh karena itu, gue ingin mengkolaborasikan keduanya menjadi suatu hal yang gue senangi juga. 

Awalnya, gue pengen punya usaha yang namanya "Pondok Kertas". Pondok Kertas yaitu sebuah usaha yang di rintis dengan memanfaatkan sampah-sampah kertas yang ada di lingkungan sekitar kita untuk diolah menjadi barang baru yang punya nilai jual. Bermula gue melihat sangat banyak kertas-kertas yang tidak terpakai di lingkungan kampus gue, seperti kertas-kertas laporan, tugas dan lain sebagainya yang tergeletak dan terbuang begitu saja. Tapi, ide itu belum dapat gue realisasikan karena beberapa hal. Semoga bisa terealisasikan di tahun ini ... Aamiin

Hopefully, this year will be greener than before 
Yuk kita jaga Bumi sama-sama :)

Nah, Desember kemaren, gue mencoba untuk membuat beberapa barang hasil dari sampah nih..
Dan hasilnya adalah ... 


 *tempat pensil, frame, dan bross

 *tempat pensil dari botol plastik dan kain bekas

*tempat pensil lagi .. 


*aneka bros dari kain perca


Anda  tertarik?
Untuk harga: 
-Aneka Bross = 1500-3000/buah
-Tempat Pensil = 10.000-15.000/buah
-Frame = 12.000-50.000/ sesuai dengan model.
 Boleh kalau mau pesen bisa langsung kontak saya :
twitter: @abul_elasyari
fb: Abul Hasan Al Asyari

Sunday, November 10, 2013

Keluarga Baru: Youth For Climate Camp 2013

1-3 November 2013, Taman Wiladatika Cibubur Jakarta Timur.


Ini merupakan pengalaman kali kedua saya mengikuti event nasional mengenai lingkungan. Setelah sebelumnya saya mengikuti Youth Environmental Leader Summit (YELS) bulan Mei lalu. Beberapa muka tak asing hadir dalam acara ini. Ya, mereka adalah teman-teman seperjuangan saya ketika acara YELS di Surabaya. Dan tentunya banyak wajah-wajah anak muda baru luar biasa dalam acara Youth For Climate Camp 2013. Acara YFCC merupakan acara tahunan yang diadakan oleh DNPI yang pertama kali diadakan ditahun 2011. Ada yang berbeda YFCC 2013 dengan tahun sebelumnya. Kali ini YFCC 2013 berkerjasama dengan JICA ( Japan International Cooperation Agency ).

Alhamdulillah saya mendapatkan ijin dari guru pamong untuk mengikuti acara ini dikarenakan hari Jum'at tanggal 1 November ada jadwal saya praktek mengajar di sekolah. Hari jum'at merupakan hari yang saya tunggu-tunggu. Bertemu dengan pengalaman baru, suasana baru dan keluarga baru. Ya, acara ini sekaligus memberikan saya angin segar dari kepenatan saya mengahadapi aktivitas-aktivitas di semester ini. 

Hari pertama, semua peserta berkumpul di Taman Ismail Marzuki (TIM). Namun, tak sedikit juga peserta yang langsung menuju lokasi acara. Tiba masuk bis yang disediakan oleh panitia, saya langsung mendapatkan banyak teman baru. Sampai di lokasi, kami semua langsung diberi kunci kamar oleh panitia. Kali ini saya satu kamar dengan Edi, seorang mahasiswa Meteorologi dan Geofisika IPB 2010. Tak sedikit kami berdiskusi dan berbagi pengalaman kuliah atau kegiatan diluar kuliah.

Jam menunjukkan pukul 14.00 ini artinya acara YFCC akan segera di buka. Acara ini dibuka secara resmi oleh Bapak Rachmat Witoelar yang dalam sambutannya mengatakan bahwa generasi muda akan menjadi elemen yang paling dirugikan akibat dampak perubahan iklim. Hal tersebut karena dampak perubahan iklim akan semakin terasa dalam kurun waktu jangka panjang dan tentunya generasi muda yang akan merasakannya nanti.

Banyak sekali materi yang didapatkan selama mengikuti acara ini, diantaranya bagaimana berkampanye perubahan iklim yang terkemas dalam tulisan, media sosial, dan film. Ada banyak hal yang memotivasi serta menginspirasi saya dalam acara ini, yaitu sharing dengan para pemuda yang sukses dalam bidang perubahan iklim. Ada mas Sano dengan Greeneration Indonesia, Adeline dengan Sahabat Alamnya, dan yang lainnya. Selain itu, ada juga materi mengenai kajian teknologi dan perubahan iklim dan yang tak kalah menarik sharing dengan JICA ( Emy, Kudo, and Yuri ). Begitu banyak hal positif yang dapat kita pelajari dari Jepang, seperti masyarakatnya yang suka menjaga lingkungan salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan walau tak ada peraturan akan mendapatkan denda jika membuang sampah sembaranga.

Tentunya, hal yang paling berkesan adalah malam kreatif. Tepatnya malam mingguan bareng dengan peserta lainnya. Pada malam kreatif, semua peserta dikelompokkan menjadi 10 kelompok dan harus menampilkan sesuatu yang berhubungan dengan tema YFCC kali ini, yaitu " Berjumpa Menjalin Kebersamaan di Tengah Iklim yang Berubah". Kali ini saya sekelompok dengan anak-anak kreatif semua, ada Chandra UI, Hendri Institut Seni Indonesia, Mike Unpad, Daniel UI, Reza UIN, Bangga UIN, Abimanyu UNY, Anifa IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sania STKIP Garut,  Kustantia Septiana STEI YPPI Rembang, dan Salsabila Unpad. Kami semua tergabung dalam grup" Ada apa dengan CINTA?". Malam itu menjadi hiburan yang luar biasa bagi keluarga YFCC 2013.

Tak terasa memang. Tiga hari pun berlalu dengan cepatnya. Hari terakhir masing-masing kelompok berdiskusi mengenai apa yang akan kita kerjakan di kampus maupun di lingkungan sekitar setelah mengikuti YFCC ini. Semoga kita semua bisa merealisasikan semua projek-projek kita untuk bumi yang lebih hijau.

Salam Kenal semuanya, Keluarga baruku YFCC 2013. Semoga dapat berjumpa dilain kesempatan.

Kenangan-kenangan:

 *JICA





 *kelompok 5 yang kece

 *abis YFCC jalan-jalan ke monas



Sunday, October 20, 2013

Pantai Kenjeran yang Terlupakan




Tepatnya bulan Mei 2013 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi sebuah pantai  yang berlokasi di  Jl. Sukolilo No. 100 Surabaya Timur/Sukolilo, Pantai Kenjeran namanya. Ini merupakan perjalanan pertama saya mengunjungi Surabaya sebagai orang asli Jakarta. Perjalanan saya ke Pantai Kenjeran kali ini, merupakan sebagai salah satu rangkaian dari acara Youth Environmental Leader Summit (YELS) yang di adakan oleh BEM ITS dan diikuti oleh pemuda seluruh nusantara. Namun, selama perjalanan menuju pantai saya bertanya kepada peserta asal Surabaya mengenai keadaan Pantai Kenjeran. Dan saya terkejut, bahwa Pantai Kenjeran di mata arek Surabaya sendiri begitu banyak sampah dan kotor karena ulah para pengunjung. Selain itu, selama perjalanan saya menuju Surabaya, saya banyak berbincang dengan penumpang kereta lain yang memang asli orang Surabaya. Dan ketika saya menanyakan hal yang sama tentang Pantai Kenjeran, saya pun mendapat jawaban yang sama yaitu banyak sampah dan kotor.

Tujuan saya mengunjungi Pantai Kenjeran adalah untuk ikut serta dalam kegiatan Surabaya Green Action yang nantinya akan menanam 1000 mangrove dan bersih-bersih pantai dengan beberapa komunitas hijau Surabaya dan peserta YELS lainnya. Akhirnya, sampai juga di Pantai Kenjeran. Kata pertama yang muncul di mulut saya adalah “sepi”. Sambil menelusuri Pantai Kenjeran yang begitu luas ternyata berbanding terbalik dengan pengunjung yang datang. Dan ternyata anggapan Pantai Kenjeran itu banyak sampah dan kotor adalah benar. Ketika saya menanam mangrove, tak sedikit sampah plastik yang hanyut terbawa air dan lumpur. Setelah menanam mangrove dan bersih-bersih, saya mengelilingi berbagai sudut Pantai Kenjeran. Ternyata Pantai ini begitu indah kawan, ditambah banyaknya penjual souvenir menarik seperti bros dan gantungan kunci dari kerang. Berbagai macam aneka permainan pun menambah kecerian pantai ini.
Rasanya sungguh menarik dan seru wisata kali ini. Berwisata sekaligus aksi untuk alam adalah dua hal yang bermanfaat. Mungkin ada baiknya jika Pantai Kenjeran dijadikan sebagai ecowisata nantinya. Semoga Pantai Kenjeran tak terlupakan seperti mutiara di dasar lautan.

Pages

Blogger templates

My Tweets

Twitter icon

Loading..

My Shoutbox

. . .

<a href=http://zawa.blogsome.com>Zawa Clocks</a>

The Visitor Number

Free Counters

It's About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
A learner who is highly passionate in mathematics education, community development and eco-volunteerism

Followers